Terapi Listrik

Terapi Listrik


Apa yang dilakukan oleh sebagian warga Jakarta yang rebahan di atas rel KA, mungkin memang ada benarnya. Energi listrik alias setrum terbukti -- meski disebut tidak ilmiah -- bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti seperti stroke, kanker, jantung, diabetes, dan ginjal.
Semua penyakit ini bisa diobati dengan terapi setrum. Saya pribadi sudah sering diterapi seperti ini.    
Adalah Pakde -- begitu pria pensiunan Marinir ini biasa disapa -- sudah bisa terapi sejak 1966 ketika masih SMP. Seorang staf Kedubes Uni Emirat Arab yang lumpuh pada 1995 diterapi hingga sembuh. Lantaran ini, membuat Kedubes Jepang minta bantuan pengobatan Pakde.    
Pada 1998, Pakde diajak ke Jepang untuk terapi "orang gila", dan berhasil dipulihkan. "Saya sampai mendapatkan visa bebas masuk wilayah daratan China, Taiwan, dan Korea dari Jepang," ujarnya. Berkat keahliannya ini pula, setiap bulannya Pakde diminta terapi di Istana Kerajaan Brunai Darussalam.    
Terapi setrum sebenarnya sudah tidak asing lagi di dunia kedokteran. Di kedokteran, ini termasuk dalam disiplin physio-therapy. Dalam terapi setrum ini, arus listrik yang masuk ke tubuh pasien, ternyata mampu dan berhasil mengobati berbagai penyakit yang selama ini tak bisa disembuhkan secara medis.      Tak hanya itu. Bahkan, setrum juga bisa dipakai untuk terapi wanita yang sudah lama dinyatakan "mandul". Beberapa wanita yang diterapi setrum ini terbukti hamil dan telah melahirkan. "Dengan setrum, kita berusaha membuka indung telur yang tertutup," tutur Pakde.    
Seorang pasien sakit jiwa di Jepang malah berhasil disembuhkan Pakde dengan terapi setrum. Mengapa bisa sembuh? Menurut Pakde, setrum yang masuk ke tubuh pasien bisa mengembalikan sistem syaraf pasien yang terganggu, sehingga bisa kembali normal. "Ini jaringan syarafnya yang diterapi," ujarnya.    
Sistem kerja terapi setrum ini mengalir melalui tubuh Pakde. "Hanya aliran listrik yang positif saja yang masuk ke tubuh saya. Sedangkan arus listrik negatifnya masuk ke tubuh pasien," ujarnya. Besaran arus yang masuk tersebut tergantung pada tingkat "keparahan" penyakit yang diderita pasien.   
 Untuk pasien anak usia 3 tahun yang terkena sesak nafas, kata Pakde, biasanya dialiri arus yang cukup rendah, sekitar 15 watt. "Ini dilakukan antara 2-3 kali terapi. Tapi, untuk pasien yang cukup berat penyakitnya, biasanya arusnya bisa sampai 50 watt," tambahnya. Besaran arus ini diatur oleh Pakde.    
Untuk penyakit yang tergolong berat seperti stroke perlu beberapa kali terapi. Terapi pertama biasanya dialiri arus yang cukup rendah. Ini untuk membuka sistem syarat yang mulai menyempit, atau bahkan, tertutup. Setelah terbuka, untuk terapi kedua, aliran arus listriknya mulai ditingkatkan.    
"Demikian pula untuk terapi berikutnya, arus listriknya ditambah, sehingga membuat sistem syarafnya benar-benar terbuka," ungkap Pakde. Setelah sistem syarafnya terbuka, pasien penderita stroke sudah bisa menggerakkan kembali bagian tubuhnya yang semula  tak bisa digerakkan sama sekali.   
 Ini dialami oleh seorang dokter ahli syaraf di Solo yang berhasil disembuhkan Pakde dengan beberapa kali terapi setrum. Semula, sudah beberapa tahun tangan kanannya tidak bisa digerakkan sama sekali karena terkena stroke. "Dokter yang sudah pensiun tersebut senangnya bukan main," katanya.      Getaran arus listrik yang masuk ke tubuh pasien membuat sistem syaraf yang semula tersumbat atau tertutup karena penyempitan pembuluh darah bisa terbuka. Ini yang lalu  merangsang jaringan syaraf untuk kembali ke tempatnya semula. Syaraf normal ini yang bisa memerintah gerakan tubuh.    
Beberapa pasien stroke yang diserang bagian kepalanya - penceng sebelah - menjadi pasien RSUD Dr. Soetomo juga pernah diterapi Pakde. "Saya dulu pernah di Psikoterapi Dokter Soetomo. Saya kebagian pasien-pasien stroke yang dokter sudah tidak sanggup lagi menanganinya," ujar Pakde.    
Terapi setrum ini sebenarnya bermula dari terapi pengobatan alternatif di China.
Tapi, di sana aliran listriknya masih melalui adaptor - sebelum masuk ke therapies. Sehingga jika diterapi, getarannya tidak begitu terasa, karena arusnya lemah. Tapi, sejak 1966 Pakde terapi langsung dari arus listrik.    
"Jadi, arus listrik yang masuk ke tubuh saya tergantung pada besarnya arus di tempat listrik itu dialirkan," ungkap Pakde. Misalnya, jumlah arus yang ada di rumah ini sebesar 1.300 watt, maka yang mengalir di tubuhnya sebesar 1.300 watt pula. "Saya tinggal atur berapa yang harus dipakai," lanjutnya.    
Terapi setrum ini sebenarnya sudah dipraktekkan di dunia kedokteran.
Untuk pasien yang kritis dan dalam keadaan tak sadar atau koma, biasanya dilakukan terapi "kejutan listrik" di tubuh bagian dadanya. Tujuannya, untuk merangsang sistem syaraf yang tak berfungsi, sehingga normal kembali.    
Melakukan terapi setrum untuk medis, menurut Pakde, tidak bisa sembarangan. Untuk itu, ia juga mempelajari anatomi tubuh manusia. Sehingga, "Saya mengerti dan banyak tahu bagaimana sistem jaringan syaraf pada manusia. Juga, di mana saja titik-titik sistem syaraf yang harus saya terapi," ujarnya.    
Cak Lutfil Hakim, warga Kota Surabaya, pernah merasakan terapi setrum. Semula ia merasa ragu ketika mencoba terapi ini. Tapi, "Setelah 2 kali terapi, penyakit polip saya yang sudah bertahun-tahun ini langsung hilang. Sekarang kalau bernafas jadi lancar, tidak ada cairan yang keluar lagi," ungkap wartawan senior ini. 
Tidak hanya itu. Seluruh tubuh pekerja media ini juga merasa lebih enak lagi. Rasa sakit di tubuh seperti pegal-pegal dan linu juga ikut hilang. "Kepala saya juga merasa enteng, sehingga tidurpun menjadi nyenyak sekali," kata Cak Lutfil yang diterapi bersama teman-temannya pada awal Oktober 2007 lalu.    
Keahlian melakukan terapi setrum itu kini juga "diwarisi" Rasmat Moeslan yang akrab dipanggil Cak Mat. Ini ia lakukan setelah Pakde "mewariskan" ilmu terapi ini ke Cak Mat yang selama bertahun-tahun mendampinginya. "Saya dulu sering mengantarkan Pakde untuk menerapi pasien," kata Cak Mat mengisahkan.    
Salah seorang pasien yang pernah diterapi setrum oleh Cak Mat adalah dosen FISIP UNAIR yang punggungnya mengeras karena aliran darahnya tersumbat. Terapi medis yang ditangani para dokter spesialis RSUD Dr. Soetomo pun tidak sanggup menyembuhkannya. Namun, setelah beberapa kali diterapi setrum oleh Cak Mat, alhamdulillah, ternyata berangsur-angsur sembuh.      Menurut dr. Badrul Munir, peserta program pendidikan dokter spesialis Ilmu Penyakit Saraf FK Unair (Jawa Pos, 27 Juli 2011), di dalam ilmu kedokteran modern, listrik memang bisa digunakan untuk membantu penegakan diagnosis dan terapi beberapa penyakit.    


Sebagai contoh, EMNG (electroneuromyography) dan EEG (electroencephalograpy) sangat membantu untuk mengetahui kelaian saraf. Sementara itu ECG (electrocardiography) sangat membantu penegakan diagnosis kelainan jantung. Dalam hal terapi, TENS (transcutaneous electric nerve stimulation) bisa digunakan untuk pengobatan kelainan jiwa walau sekarang sudah mulai ditinggalkan.    
Terapi listrik rel seperti halnya terapi alternatif lain adalah sebuah ironi. Hal itu dipicu oleh keterbatasan masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan bercampur dengan ilusi tentang kemanjuran suatu terapi alternatif yang belum terbukti secara ilmiah. Bahkan terapi alternatif tersebut sering dibalut dengan penipuan terselubung sehingga biaya pengobatan menjadi lebih mahal dengan hasil yang tidak maksimal.    
Terbatasnya fasilitas kesehatan yang dibutuhkan masyarakat, seperti alat ENMG atau EEG, misalnya, hanya ada di beberapa rumah sakit besar/pendidiian dan pusat rujukan. Padahal, alat tersebut sangat dibutuhkan untuk membantu menegakkan diagnosis berbagai penyakit yang sulit dan menahun.
Begitu juga alat bantu terapi listrik sperti TENS/ECT yang sangat terbatas.      Tapi toh, mestinya kita tidak harus serta-merta menyalahkan begitu saja masyarakat yang mencoba terapi listrik di atas rel KA. Kalau memang benar pengobatan ala Rel KA itu bisa menyembuhkan beragam penyakit, tentunya kita harus mencarikan "jalan aman" agar masyarakat tetap bisa berobat tanpa mengabaikan keselamatannya. Caranya? Ya dibuatkan jalur "Rel Obat" sendiri yang jauh dari jalur KA sebenarnya


Terapi Rel Kereta Listrik



Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, 20 orang yang terdiri dari pria dan wanita, tua dan muda mulai berkumpul di pinggir rel kereta dekat Stasiun Rawabuaya, Jakarta Barat.

Beberapa di antaranya tampak membawa bantal dan payung, lainnya mulai menyingsingkan celana dan bajunya. Tak lama, mereka pun mulai merebahkan diri di atas rel kereta. Sontak saja, aliran listrik rel kereta menjalar ke sekujur tubuh.

Tanpa disadari, tangan yang direntangkan sambil memegangi rel mulai bergetar, kaki pun tak kalah hebatnya bergetar. Bukannya takut, mereka justru tampak menikmatinya. "Habis enak sih, sudah terbiasa saya datang ke sini," ujar Kusmiati (61), warga Duri Kosambi, Rabu (20/7/2011), saat dijumpai di lokasi.

Kusmiati bercerita dirinya mulai merebahkan diri di rel kereta api sejak tahun 2010. Saat itu, Kumiati menderita berbagai macam penyakit mulai dari Diabetes, darah tinggi, sulit tidur hingga migrain.

Berbagai macam cara telah ditempuhnya mulai dari berobat di rumah sakit sampai mengikuti terapi batu giok. "Hasilnya nihil. Uang terbuang percuma tapi tetap tidak ada perbaikan," akunya.

Ketika segala macam upaya tak membuahkan hasil, tetangga Kumiati memberitahukan adanya terapi rel listrik di Rawabuaya. "Saya pikir awalnya. Ah, kayak orang gila stress aja tiduran di rel," ucapnya.

Namun, setelah dicoba sekitar tiga bulan, pernyakit Kumiati pun mulai berkurang. Kumiati mengaku sudah bisa tidur lelap, tidak lagi pusing, dan darah tinggi serta diabetesnya semakin berkurang. "Syukur sekarang udah enakan. Makanya karena saya merasa enak, nyaris tiap hari saya selalu ke sini," ujar Kumiati.

Hal yang sama juga diutarakan Sri (50), warga Duri Kosambi. Tahun 2010, Sri mengalami sakit parah separuh bagian tubuhnya nyaris lumpuh akibat stroke. "Saya nggak bisa jalan, bibir sampai mencong-mencong begitu," ujarnya.

Jarum suntik kerap menghujam dirinya untuk memperbaiki kondisinya itu. Namun, sama seperti Kumiati, Sri pun tak merasa kondisinya membaik. Seorang tetangga akhirnya menyarankan untuk terapi listrik di Stasiun Rawabuaya. "Saya dulu dibawa ke sini sampai harus dibopong karena tidak bisa jalan," tutur Sri.

Namun, kini Sri sudah bisa berjalan lagi dan tiap hari selalu menyempatkan diri merebahkan diri di rel kereta Rawabuaya. "Jadi ketagihan. Karena terasanya enak di badan," ungkap Sri.

Sri biasanya melakukan terapi rel listrik selama satu jam tiap harinya. Cerita Sri dan Kumiati hanyalah cerita dari segilintir kepercayaan warga akan khasiat aliran listrik yang berasal dari kereta api. Setiap pagi dan sore harinya, rel kereta di stasiun Rawabuaya dipadati oleh sekitar 20-30 warga yang berbaring dengan santai.


Saat akhir pekan, warga yang datang bisa sekitar 50 orang dan berasal dari berbagai wilayah di luar Jakarta. Seakan berbaring di pantai, para warga ini sama sekali tidak khawatir akan sengatan listrik yang ditimbulkan atau pun lalu lintas kereta api di rel itu. "Tenang saja, karena kita sudah sering di sini jadi hapal jam berapa saja kereta datang," ucap Budi (51), warga Rawabuaya.

Budi yang juga seorang kepala sekolah ini mengatakan lalu lintas kereta di Rawabuaya sangat minim dan hanya ada setiap 1-1,5 jam sekali. "Kalau ada kereta akan lewat, petugas stasiun akan peringatin kami. Nah, kami akan menjauh, kalau keretanya sudah lewat, kami rebahan lagi," kata Budi.

Budi menuturkan setiap harinya pengunjung bertambah karena mulai munculnya cerita khasiat listrik di rel Rawabuaya. "Wallahualam, tapi saya rasakan khasiatnya," aku Budi yang sudah enam bulan menjalani terapi ini. [kompas]



Biolistrik


terapi listrik
Biolistrik adalah listrik yang terdapat pada makhluk hidup, tegangan listrik pada tubuh kita berbeda dengan apa yang kita bayangkan. Seperti listrik dirumah tangga. Kelistrikan pada tubuh berkaitan dengan komposisi ion yang terdapat dalam tubuh. Komposisi ion ekstra sel berbeda dengan komposisi ion intra sel. Pada ekstra sel lebih banyak ion Na dan Cl2, sedangkan intra sel terdapat ion H dan anion protein.
Biolistrik adalah energi yang dimiliki setiap manusia yang bersumber dari ATP (Adenosine Tri Posphate) dimana ATP ini di hasilkan oleh salah satu energi yang bernama mitchondria melalui proses respirasi sel. Biolistrik juga merupakan fenomena sel. Sel-sel mampu menghasilkan potensial listrik yang merupakan lapisan tipis muatan positif pada permukaan luar dan lapisan tipis muatan negatif pada permukaan dalam bidang batas/membran. Kemampuan sel syaraf (neurons) menghantarkan isyarat biolistrik sangat penting.
Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang dinamakan Dendries yang berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke neuron. Stimulus untuk mentringer neuron dapat berupa tekanan, perubahaan temperature, dan isyarat listrik dari neuron lain. Aktifitasi bolistrik pada suatu otot dapat menyebar ke seluruh tubuh seperti gelombang pada permukaan air.
Pengamatan pulsa listrik tersebut dapat dilakukan dengan memasang beberapa elektroda pada permukaan kulit. Hasil rekaman isyarat listrik dari jantung (Electrocardiogran-ECG) diganti untuk diagnosa kesehatan. Seperti halnya pada ECG, aktivitasi otak dapat dimonitor dengan memasang beberapa elektroda pada posisi tertentu. Isyarat listrik yang dihasilkan dapat untuk mendiagnosa gejala epilepsy, tumor, geger otak dan kelainan otak lainya.

Sistem Syaraf dan Neuron
Sistem saraf dibagi dalam dua bagian yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom.
a.       Sistem saraf pusat
Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer. Saraf perifer ini adalah serat-serat yang mengirim informasi sensoris ke otak atau ke medulla spinalis disebut saraf afferensedangkan serat saraf yang menghantarkan informasi dari otak dan medulla spinalis ke otot serta kelenjar disebut serat efferen.
b.      Sistem saraf otonom
Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh. Misalnya jantung, usus dan kelenjar-kelenjar. Pengontrolan ini dilakukan secara tidak sadar. Otak berhubungan langsung dengan medulla spinalis; keduanya diliputi cairan serebro spinalis dan dilindungi tulang tengkorak serta tulang vertebralis (columna vertebralis). Berfat otak 1500 gram dan hanya 50 gram yang efektif.
Struktur dasar dari sistem saraf  di sebut neuron/sel saraf. Suatu sel saraf mempunyai fungsi menerima, interpretasi dan menghantarkan aliran listrik.

Kelistrikan Saraf
Dalam bidang neuroanatomi akan dibicarakan kecepatan impuls serat saraf ; serat saraf yang berdiameter besar mempunyai kemampuan menghantar impuls lebih cepat dari pada serat saraf yang berdiameter kecil. Kalau ditinjau besar kecilnya serat saraf maka serat saraf dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu serat saraf tipe A, B dan C. Dengan mempergunakan mikroskop elektron, serat saraf dibagi dalam dua tipe : serat saraf bermielin dan serat saraf tanpa mielin.
Serfat saraf bermielin : banyak terdapat pada manusia. Mielin merupakan suatu insulator ( isolasi) yang baik dan kemampuan mengalir listrik sangat rendah. Potensial aksi makin menurun apabila melewati serat saraf yang bermielin.

terapi listrikPerambat Potensial Aksi
Potensial aksi bisa terjadi apabila suatu daerah membran saraf atau otot mendapat rangsangan mencapai nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang daerah sekitar sel membran untuk mencapai nilai ambang. Dengan demikian dapat terjadi perambatan potensial aksi ke segala jurusan sel membran keadaan ini disebut perambatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi.
Setelah timbul potensial aksi, sel membran akan mengalami repolarisasi. Proses repolarisasi sel membran disebut suatu tingkat refrakter. Tinkat refrakter ada dua fase yaitu periode refrakter absolut dan peiode refrakter relatif.

Periode refrekter absolut
Selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsur kekuatan untuk menghasilkan potensial aksi yang lain.
Periode refrekter relatif
Setelah sel membran mendeteksi repolarisasi seuruhnya maka dari periode refrekter absolut akan menjadi periode refrekter relatif, dan apabila ada stimulasi/rangsangan yang kuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang baru.
Kelistrikan Pada Sinapsis dan Neuromyal Junction
Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsis; berakhirnya saraf pada sel otot/hubungan saraf otot disebut Neuromnyal junction.
Baik sinapsis maupun Neuromnyal junction mempunyai kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel membran sel otot, oleh karena pada waktu terjadi depolarisasi, zat kimia yang terdapat pada otot akan trigger/bergetar/berdenyut menyebabkan kontraksi otot dan setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan mengalami relaksasi.

Kelistrikan Otot Jantung
Sel membran otot jantung sangat berbeda dengan saraf dan otot bergaris. Pada saraf maupun otot bergaris dalam keadaan potensial membran istirahat dilakukan ragsangan ion-ion Na+ akan masuk ke dalam sel dan setelah tercapai nilai ambang akan timbul depolarisasi. Sedangkan pada sel otot jantung, ion Na+ berlahan-lahan akan masuk kembali kedalam sel dengan akibat terjadi gejala depolarisasi secara spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi tanpa memerlukanrangsangan dari luar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
Biolistrik adalah energi yang dimiliki setiap manusia dan merupakan fenomena sel.
Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang dinamakan Dendries yang berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke neuron.
Gelombang arus listrik bekaitan erat dengan penggunaan arus listrik untuk merangsang saraf motoris atau saraf sensoris.
Dalam biolistrik terdapat beberapa hukum, yaitu Hukum Joule dan Hukum Ohm


Kelistrikan dan kemagnetan yang timbul dalam tubuh tebagi menjadi 9, yaitu:
1.      Sistem Syaraf dan Neuron
2.      Kelistrikan Saraf
3.      Perambata Potensial Aksi
4.      Kelistrikan Pada Sinapsis dan Neuromyal Junction
5.      Kelistrikan Otot Jantung
6.      Macam-Macam Gelombang Potensial Aksi
7.      Elektroda
8.      Isyarat Listrik Tubuh
9.      Aktivitas Kelistrikan Otot Jantung